Penyakit Disleksia: Jenis - Jenis, Gejala, Dampak, Dan Cara Mengobatinya

Penyakit Disleksia: Jenis - Jenis, Gejala, Dampak, Dan Cara Mengobatinya

Apa itu penyakit disleksia? Disleksia adalah suatu jenis gangguan atau kesulitan belajar yang umumnya di derita oleh anak - anak dan dapat mempengaruhi kemampuan membaca serta pengejaan seseorang, dimana seseorang mengalami hambatan atau ketidakmampuan dalam belajar dan membaca, mengeja atau memahami bacaan. Sebagai contoh tulisan yang seharusnya tertulis mobil ditulis model B tertukar dengan D, Motor ditulis dengan Wotro M tertukar dengan huruf W tor tertukar penulisannya menjadi tro.

Dampak dari penyakit disleksia terhadap anak sangat sangat besar, anak yang terkena penyakit disleksia dapat menyebabkan anak kesulitan dalam memahami dan membaca pelajran, menulis, mengeja dan berbicara dengan jelas. Kemampuan berfikir pada anak mungkin di atas rata-rata, mereka dapat berpikir dengan cepat dan kreatif dengan daya ingat dan penalaran yang kuat.

Tapi sayangnya anak-anak akan tetap mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran dalam segi visual atau suara. Akan tetapi anak yang terkena penyakit disleksia akan mengalami kesulitan dalam mencocokkan huruf dengan gambar, mereka kesulitan dalam memahami bacaan atau gambar yang mereka lihat sehingga untuk mempelajari hal tersebut akan menjadi sulit baginya.

Jenis-Jenis Disleksia

Penyakit Disleksia: Jenis - Jenis, Gejala, Dampak, Dan Cara Mengobatinya


Jenis-jenis disleksia terbagi menjadi 3 yaitu disleksia primer, disleksia sekunder, dan trauma disleksia berikut penjelasan ketiga jenis-jenis disleksia.

1. Disleksia primer

Disleksia primer adalah bentuk genetik, disleksia ini adalah bentuk paling umum dari disleksia dalam kelompok disleksia ini biasanya mengalami masalah dengan mengidentifikasi huruf dan angka, membaca ejaan aritmatika, waktu, pengukuran instruksi dan  keterampilan yang lainnya yang biasa dilakukan oleh otak bagian kiri.

Disleksia ini adalah pemikir yang dominan dalam menggunakan otak kanan, kebanyakan penduduk dunia mengelola atau memproses informasi dengan menggunakan otak kiri yang linear secara berurutan dan alami. 

Anak-anak yang terkena disleksia sebainya mereka belajar dengan baik menggunakan pendekatan langkah demi selangkah, dalam arti yang lain mereka harus melihat kesimpulan terlebih dahulu sebelum mereka dapat melihat makna subjek atau urutan. Masalah untuk penyakit disleksia ini adalah metode pengajaran umum pada banyak sekolah di seluruh dunia diselenggarakan untuk siswa otak kiri. Sehingga menyebabkan mereka kesulitan dalam memahami pelajaran.

2. Disleksia sekunder

Disleksia sekunder adalah disleksia bawaan sejak lahir, disleksia sekunder disebabkan oleh masalah perkembangan otak pada janin yang menyebabkan gangguan pada kemampuan neurologis dalam melakukan pengenalan kata dan ejaan. 

Disleksia sekunder meningkat seiring dengan bertambahnya usia, kemungkinan anak yang terkena disleksia sekunder akan mengalami gejala-gejala disleksia selama usia anak-anak, tetapi dapat berprestasi di jenjang perguruan tinggi apabila mendapatkan pengarahan yang baik, anak-anak seperti ini pada umumnya menanggapi Phonics dengan baik.

3. Trauma disleksia

Trauma disleksia adalah penyakit disleksia yang disebabkan oleh cedera serius pada otak, gejala penyakit disleksia dapat berkembang dengan cepat karena kerusakan pada pendengaran yang diakibatkan oleh infeksi flu, filek, atau infeksi pada telinga pada anak-anak yang masih kecil.
Anak tidak mampu mendengar suara dengan kata-kata fonem sehingga memiliki waktu yang lebih sulit dengan mengeluarkan kata-kata, belajar membaca dan mengeja, anak yang sudah dewasa mengembangkan trauma disleksia dari penyakit otak yang mempengaruhi kemampuan untuk memahami bahasa.

Anak-anak seperti ini dulunya dapat memahami ejaan membaca dan menulis sebelum terjadi trauma dan ada berbagai jenis bacaan dan program ejaan yang ditunjuk untuk berbagai jenis masalah pembelajaran tersebut.

Gejala pada penyakit disleksia

Penyakit Disleksia: Jenis - Jenis, Gejala, Dampak, Dan Cara Mengobatinya


Gejala pada penyakit disleksia bervariasi pada umumnya tidak sama pada setiap penderita dan gangguan ini sangat sulit dikenali terutama pada anak yang belum memasuki usia sekolah, ada sebagian gen keturunan dianggap dapat mempengaruhi perkembangan bagi otak yang mengendalikan fonologi diantaranya kemampuan ketelitian dalam memahami suara atau bahasa lisan. Contohnya dalam membedakan kata paku dengan kata palu.

Pada balita penyakit disleksia dapat kita kenali melalui jumlah gejala yaitu
Perkembangan saat bicara yang lebih lambat dibandingkan dengan anak-anak pada usianya
Membutuhkan waktu yang lama dalam mempelajari kata-kata baru seperti kata paku dengan kata palu

Kesulitan untuk menggunakan kata-kata dalam mengekspresikan diri contohnya kesulitan dalam 
memilih kata yang tepat atau kesulitan dalam menyusun kata dengan benar,
Kurang dalam memahami kata yang memiliki Rima seperti putri menari sendiri

Dampak disleksia pada anak

Ada banyak sekali orang tua yang tidak mengetahui disleksia pada anaknya bahkan ada yang tidak menyadari anaknya terkena penyakit disleksia ini hingga dewasa, orang yang terkena disleksia akan menyebabkan sejumlah masalah diantaranya

1. Proses belajar menjadi bermasalah, menulis serta membaca merupakan keterampilan dasar yang harus dikuasai seseorang, keterampilan dasar seperti ini bukan hanya untuk belajar saja akan tetapi sangat penting untuk kehidupan dewasa kedepannya, pada anak yang terkena penyakit disleksia bisa saja tidak naik kelas karena tertinggal banyak pelajaran dan pada saat dewasa pekerjaan yang dapat dia lakukan akan terbatas.

2. Masalah pada sosial, anak yang terkena disleksia akan membuat dirinya menjadi pemalu dengan teman-temannya. Anak juga akan cenderung menarik diri dari lingkungan dan memiliki masalah dalam berperilaku cemas dan lebih agresif.

3. Kesehatan mental dapat menjadi lebih buruk, dalam kondisi seperti ini anak mengalami berisik lebih mengalami gangguan pada mentalnya, apabila sudah memiliki kondisi seperti ini yang perhatian dan perilaku yang hiperaktif dapat sulit dikontrol dan membuat disleksia semakin sulit untuk diatasi.
Cara melatih anak yang terkena penyakit disleksia.

Teknik yang digunakan dalam latihan untuk membantu anak pengidap disleksia belajar baca tulis yaitu dengan menggunakan teknik multisensorik, multi sensorik adalah cara mengajar yang melibatkan lebih dari satu dalam satu waktu. Berikut ini adalah beberapa dari contoh latihan multisensorik yang dapat digunakan dalam membantu anak yang kesulitan membaca.

1. Agar lebih mendetail
2. Menggunakan benda seperti pasir atau kering
3. Menulis di udara 
4. baca susun dan tulis
5. Menggunakan blok huruf
6. Dengan bantuan gambar
7. Dengan ketukan jari
8. Buatlah kosakata pada dinding
9. Membaca lalu mendengarkan

Kesimpulan

Jika anda memiliki anak adik atau kerabat yang terkena disleksia jangan langsung putus asa dalam mengajarkannya membaca, mengeja, menulis dan memahami, karena di dunia ini tidak ada penyakit yang tidak dapat disembuhkan, carilah bagaimana cara mengajarkan membaca dan menulis pada anak yang terkena disleksia dan jangan menyerah dan selalu melatihnya dalam membaca dan menulis dan tetap semangat.

Related Posts

Subscribe Our Newsletter